Minggu, 08 Mei 2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Menyusui merupakan proses fisiologis untuk memberikan nutrisi kepada bayi secara optimal (IDAI, 2010). Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif adalah pemberian ASI kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain (Kementrian Kesehatan RI, 2013).
Untuk keberhasilan program pemberian ASI eksklusif, WHO dan UNICEF merekomendasikan metode untuk memudahkan ibu memberikan ASI eksklusif yaitu Inisiasi Menyusu Dini (IMD), bayi hanya menerima ASI, menyusukan sesuai keinginan bayi, tidak menggunakan dot, botol atau kempeng (AIMI, 2011). Keberhasilan seorang ibu untuk menyusui juga memerlukan dukungan dari semua pihak, baik suami, keluarga masyarakat, lingkungan kerja, dan sistem pelayanan kesehatan. Oleh karenanya pemberian dukungan terhadap ibu dalam persiapan menyusui merupakan faktor penting bagi keberhasilan menyusui eksklusif sampai enam bulan dan menyusui dilanjutkan hingga dua tahun (Kementrian Kesehatan, 2013).
Beberapa bukti menunjukkan bahwa jika bayi tidak diberi ASI eksklusif akan meningkatkan berbagai penyakit seperti diare dan pneunomia. Di Indonesia, 40 persen kematian balita disebabkan oleh kedua penyakit tersebut (Kementrian Kesehatan, 2013). Bayi-bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif memiliki tingkat infeksi pernafasan dan infeksi saluran cerna yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi-bayi lain yang diberikan ASI. Berdasarkan penelitian WHO (2000) di enam negara berkembang, resiko kematian bayi antara 9-12 bulan meningkat 40 persen jika bayi tidak disusui (Roesli, 2009).
Manfaat pemberian ASI diantaranya sebagai nutrisi, meningkatkan kecerdasan dan meningkatkan jalinan kasih sayang. Keuntungan menyusui akan meningkat seiring lama menyusu eksklusif selama enam bulan. Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 yang terkait dengan pemberian ASI eksklusif yaitu Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 24 per 1000 kelahiran, Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup, Menurunkan prevalensi Gizi Kurang menjadi 15 persen dan balita pendek menjadi 32 persen (KemenKes RI, 2013).
Walaupun manfaat pemberian ASI eksklusif sangat banyak, namun tingkat pemberian ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama masih sangat rendah, menurut Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan, jumlah ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya selama 6 bulan hanya mencapai 42 persen dari angka kelahiran. Menteri Kesehatan RI Dr. Nafsiah Mboi telah menargetkan bahwa angka pemberian ASI oleh ibu menyusui adalah 80 hingga 90 persen (Sekarsari, Ludfiani dan Ahdiah, 2013).  Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Jawa Timur, per-tahun 2012, kota Surabaya memiliki tingkat pemberian ASI ) eksklusif sebesar 60.52%, dengan jumlah bayi yang diperiksa sebanyak 21.780 orang (Jatim Dalam Angka Terkini, 2013).
Roesli (2009) menyatakan bahwa dukungan keluarga merupakan faktor eksternal yang paling besar pengaruhnya terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Adanya dukungan keluarga terutama suami maka akan berdampak pada peningkatan rasa percaya diri atau motivasi dari ibu dalam menyusui. Suririnah (2010) mengatakan bahwa motivasi seorang ibu sangat menentukan dalam pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.Disebutkan bahwa dorongan dan dukungan dari pemerintah, petugas kesehatan dan dukungan keluarga menjadi penentu timbulnya motivasi ibu dalam persiapan menyusui menyusui. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan ibu untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam menghadapi dan memecahkan masalah menyusui sehingga mencegah penghentian menyusui secara dini nantinya(Yusria, 2011).
Ibu memperoleh dukungan, saat ibu menerima pelayanan, perhatian, penghargaan, pengertian, saran, dorongan dan bantuan secara praktis yang diberikan tenaga kesehatan, keluarga dan teman (Meedya et al., 2010). Selain dukungan dalam persiapan menyusui, pengalaman melihat orang lain menyusui juga mempengaruhi proses persiapan menyusui (Hoddinott et al., 2010).ibu  yang tidak pernah menyusui, namun pernah melihat orang menyusui lebih berminat untuk menyusui anaknya dibandingkan wanita yang tidak pernah melihat orang menyusui (Hoddinott et al., 2010).

Berdasarkan survey awal yang diambil pada tanggal 10 Mei 2015 di BPM Afah Fahmi, A.Md.Keb Surabaya jumlah populasi ibu hamil Trimester III pada bulan Maret-Mei sebanyak 48 ibu hamil. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk menggali lebih tentang hubungan dukungan keluarga dengan sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui.
1.2       Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1        Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap ibu dalam persiapan menyusui dari faktor eksternal : tradisi, lingkungan, sosial ekonomi, dukungan keluarga, petugas kesehatan. Faktor internal : pengalaman, pengetahuan, umur dan paritas.
1.2.2        Batasan Masalah
Sehubung dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui maka peneliti hanya membatasi pada dukungan keluarga dengan sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui.
1.3       Rumusan Masalah
Adakah hubungan dukungan keluarga dengan sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui di BPM Afah Fahmi, A.Md.Keb Surabaya?



1.4       Tujuan Penelitian
1.4.1        Tujuan Umum
Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui  di BPM Afah Fahmi, A.Md.Keb Surabaya.
1.4.2        Tujuan Khusus
1.      Mengidentifikasi dukungan keluarga pada ibu hamil dalam persiapan menyusui di BPM Afah Fahmi, A.Md.Keb Surabaya.
2.      Mengidentifikasi sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui di BPM Afah Fahmi, A.Md.Keb Surabaya.
3.      Menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui di BPM Afah Fahmi, A.Md.Keb Surabaya.
1.5       Manfaat Penelitian
1.5.1        Manfaat Teoritis
Dapat menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui.
1.5.2        Manfaat Praktis
1.5.2.1  Bagi Peneliti
Wahana belajar dan menerapkan ilmu dan teori yang didapatkan selama kuliah kedalam praktek, peningkatan daya pikir dan mengamati suatu permasalahan sehingga dapat menambah pengetahuan dan pengalaman.
1.5.2.2  Bagi BPM
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi bidan  untuk lebih meningkatkan pelayanan dan penyuluhan tentang perrsiapan menyusui selama kehamilan.
1.5.2.3  Bagi Institusi Akademik
Menambahkan referensi dan literatur ilmu pengetahuan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang hubungan dukungan keluarga dengan sikap ibu hamil dalam persiapan menyusui.
1.5.2.4  Bagi Ibu Hamil

`Dapat menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi masyarakat khususnya ibu hamil sehingga diharapkan ibu hamil mendapat dukungan  dalam mempersiapkan diri untuk menyusui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar